Sabtu, 07 April 2012

Happy Sweet 20th

Dimalam 23 Maret 2012 aku sengaja begadang hanya untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun tepat pukul 00.00 untuk Baby panggilan akrab Farida Nur 'Aini.

Tahap pertama yang aku lakukan pra-begadang adalah menyalakan tv dan duduk rapi di depan tv sambil bersandar di spring bad yang memang dengan setia berada di depan tv sejak jaman baholaa. Satu jam pertama mata masih segar bugar menatap layar televisi, dua jam kemudian kepala udah bersandar di tepi sping bad, satu jam limas belas menit kemudian aku menjatuhkan badanku ke spring bad dengan keyakinan penuh bahwa mata ini akan tetap terjaga sampai pukul 00.00.

Tapiiiiii dasar saya "PelOr" alias nemPel mOlor, baru dua menit badan tergeletak di kasur mata udah terasa berat berkilo-kilo. Dan pada saat itu pandanganku mulai kabur - gelap -semakin gelap - semakin gelap dan benar-benar gelap!!!
Alhasil, alam mimpi menyambutku dengan riang dan harapan menjadi orang yang pertama mengucapkan kata-kata ajaib itu musnah sudah.

Pada akhirnya aku menunda kata-kata itu keluar dari mulutku sampai hari dimana aku dan ke-3 baloon memberinya kejutan.
Dihari Selasa, 27 Maret 2012 anak-anak PTN (Pendidikan Tata Niaga) memberikan ucapan selamatberupa "guyuran air kehangatan " berupa campuran air kopi, tanah liat, dan snak returan. Setelah tradisi "air kehangatan" itu, aku mengantar baby ke kost-nya dengan dalih numpang sholat maghrib.Tapi baru satu langkah memasuki gerbang kost terikan lagu ulang tahun tiba-tiba terdengar riang dari ke-3 baloon = Ewed, Bundo, Acil.

Dan ini adalah kejutan kedua yang diterima baby di perayaan hari ulang tahun yang bisa dibilang terlambat itu. Well, ada pepatah yang mengatakan "lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali" dan untuk saat ini aku setuju dengan pernyataan itu.







"SELAMAT ULANG TAHUN BABY"

-Wish everythink the best for you and your life-


Tempat: sunyi, 7 April 2012

Minggu, 12 Februari 2012

Rapuh


Harus berapa kali aku menguraikan air mata agar rasa lelah yang membelenggu hati dapat musnah dengan segera?
Batu karang yang tadinya kuat walau diterjang ombak besar, kini justru rapuh hanya karena angin laut yang seharusnya menyejukan jiwa.
Pasir pantai yang tadinya tak pernah mempersalahkan langkah kaki yang menginjaknya, kini justru selalu teriak jika ia diinjak oleh sepasang kaki. Padahal sepasang kaki itu hanya milik seorang gadis mungil yang baru belajar berjalan.

Ibu, maaf atas kerapuhan jiwa yang tak bisa ku bendung lagi.
Ayah, beribu kata maaf kuucapkan karena mencairnya ketegaran yang dulu selalu kau banggakan dan kau andalkan dari diri ini.




Tempat tersepi
13 Pebruari 2012

Sabtu, 31 Desember 2011

Sepucuk Surat untuk Nay

Masih teringat jelas senyum yang selalu merekah saat kita bertemu, senyum yang mendatangkan kedamaian bagi siapapun yang melihatnya. Nay, andai ku tahu pertemuan itu adalah pertemuan terakhir kita, dan andai ku tahu nyawamu akan berakhir lewat kecelakaan itu mungkin aku akan mencegahmu sesaat dan memberi tahu kamu untuk berhati-hati dalam berkendara. Tapi, aku hanyalah manusia biasa yang tak pernah tahu kapan ajal seseorang akan datang.
kini aku hanya dapat berdoa semoga setiap dosa yang pernah kau lakukan akan diampuni oleh Allah SWT, setiap kebaikanmu pun diterima oleh-Nya dan kau ditempatkan di surga_nya. Amiin
Terakhir kuucapkan terima kasih atas persahabatan yang singkat ini, terima kasih atas tawa riang yang selalu kau berikan ditengah kebersamaan kita, dan terima kasih kuucapkan atas senyum yang tak pernah lelah tergambar diwajahmu..
Semoga kau tenang di alam sana.


Tempat sepi, 31 Desember 2011

Sabtu, 17 Desember 2011

Jogjakarta



Hari sudah malam, matahari pun telah meninggalkan permukaan. Tak banyak yang aku perbuat saat raga ini sudah kembali menyentuh lantai kamar, selain memanjakan jemariku diatas keyboard laptop.
Rasa capek setelah study lapangan ke Jogjakarta pun mulai terasa. Kini kejadian-kejadian yang tadi terjadi selama di Jogjakarta pun tiba-tiba jelas terbaca di memori otakku bak film yang sedang diputarkan. Mulai dari perjalanan my baloon (sebutan dari dhewe untuk: aku, dhewe, bundo, acil, dan farida) menuju kampus sampai makan malam disebuah warung bakso setelah kepulangan kami dari Jogjakarta yang ditemani oleh Ervin.
Kadang sebentuk senyum tergambar disudut bibirku, saat aku mengingat kejadian di pengrajin perak yang ada di Kota Gedhe. Ada kejadian yang tidak bisa aku ceritakan disini karena ini adalah rahasia perusahaan, yang jelas aku menikmati semua ini. Aku menikmati bagaimana berbincang-bincang dengan pengusaha-pengusaha perak tersebut dan syukur Alhamdulillah aku dan teman-teman diterima dengan hangat disana, begitu juga saat kami berada di pengrajin grabah yang ada di Kasongan baik saat kami berada di tempat produksinya maupun tempat pemasarannya. Kini aku harus mengakui bagaimana hebatnya karya-karya anak bangsa yang mengharumkan bangsanya melalui kerajinan baik gerabah, souvenir perak, maupun perhiasan perak yang mana semua itumereka ekspor ke luar negeri dan terbukti pasar luar negeri pun tertarik terhadap produk dalam negeri dan semoga ini dapat dipertahankan dan dapat ditingkatkan lagi.



Selain itu ada juga kejadian yang membuat aku geli. saat berada di malioboro my baloon sengaja berpencar. Acil dan Dhewe,sedang aku bersama Baby (Farida) dan Bundo. Acil dan Dhewe sedang asyik memilih barang yang ada di malioboro, sedang my baloon sisanya hanya menunggu sebentar lalu pamit untuk meninggalkan mereka. Aku dan Bundo dengan setia mengikuti jalannya Baby yang nggak bisa dikatakan lambat dan cukup membuat nafas kami terengah-engah. Saat kami tanya kemana arah tujuan kami, Baby menjawabnya dengan nada tanpa dosa. Dia menggiring kami berdua menuju "Pasar Bringharjo" yang mana jaraknya bisa dikatakan tidak dekat jika dilampaui dengan berjalan kaki. Tak banyak yang kami beli di pasar tersebut, namun cukup puas juga karena ini jadi referensi belanja bagi kami jika suatu saat nanti datang ke Jogjakarta lagi.



Hari-hari ini pun berjalan begitu cepat, seakan mimpi yang hanya numpang mampir di alam tidurku namun semua ini tak begitu saja dapat aku lupakan, ada pelajaran berharga tersendiri dengan adanya study lapangan ke Jogjakarta ini, antara lain yaitu mempererat rasa persaudaraan di B1 itu sendiri maupun pengetahuan-pengetahuan yang kami dapatkan saat mengunjungi pengrajin serta pemilik usaha di daerah Jogjakarta tersebut.

Minggu, 02 Oktober 2011

Lubang di Hati



Aku merenung dalam hati
Meragukan akan rasa itu
Rasa yang tertanam begitu dalam
Rasa yang tinggal dilubang hati

Jauh rasa itu ku buang
Namun tak bisa ku bohongi diri ini
Betapa banyak bekas rasa itu
Rasa yang tak pernah ku sangka
Rasa yang datang begitu saja


Tempat ter"jadoel", 02 Oktober 2011

Sabtu, 18 Juni 2011

sebuah ikatan



ketika surya mengawali kisah
rasa di hati tiada terbendung lagi
kata pun mengunci erat
hanya senyuman yang dapat menggambarkan rasa

sebuah ikatan yang tiada dua
persahabatan yang mengundang tawa
persahabatan yang tak terduga
persahabatan yang berawal dari canda

kawan, terima kasih atas benih ketenangan yang kau tebarkan
terima kasih juga atas deburan ombak yang menggugah jiwa
dan beribu terima kasih ku ucapkan atas segala rasa yang telah bersemayam di dada



Tempat terdalam, 18 Juni 2011

Jumat, 20 Mei 2011

Senja



Jiwa ini jauh melayang di waktu senja
Menembus megahnya mega
Menghantam angin yang menyapa

Senja, Oh, senja...
Lamunan tua jelas terbaca
Hati ini tak sanggup lagi menampung rasa
Karena engkau senja
Kisah dihati tak akan sirna


Tempat terpencil, 20 Mei 2011