Masih teringat jelas senyum yang selalu merekah saat kita bertemu, senyum yang mendatangkan kedamaian bagi siapapun yang melihatnya. Nay, andai ku tahu pertemuan itu adalah pertemuan terakhir kita, dan andai ku tahu nyawamu akan berakhir lewat kecelakaan itu mungkin aku akan mencegahmu sesaat dan memberi tahu kamu untuk berhati-hati dalam berkendara. Tapi, aku hanyalah manusia biasa yang tak pernah tahu kapan ajal seseorang akan datang.
kini aku hanya dapat berdoa semoga setiap dosa yang pernah kau lakukan akan diampuni oleh Allah SWT, setiap kebaikanmu pun diterima oleh-Nya dan kau ditempatkan di surga_nya. Amiin
Terakhir kuucapkan terima kasih atas persahabatan yang singkat ini, terima kasih atas tawa riang yang selalu kau berikan ditengah kebersamaan kita, dan terima kasih kuucapkan atas senyum yang tak pernah lelah tergambar diwajahmu..
Semoga kau tenang di alam sana.
Tempat sepi, 31 Desember 2011
kalimat tak bersyarat adalah kalimat yang sengaja dibuat tanpa pemikiran yang sulit dan memberatkan penulis.
Sabtu, 31 Desember 2011
Sabtu, 17 Desember 2011
Jogjakarta
Hari sudah malam, matahari pun telah meninggalkan permukaan. Tak banyak yang aku perbuat saat raga ini sudah kembali menyentuh lantai kamar, selain memanjakan jemariku diatas keyboard laptop.
Rasa capek setelah study lapangan ke Jogjakarta pun mulai terasa. Kini kejadian-kejadian yang tadi terjadi selama di Jogjakarta pun tiba-tiba jelas terbaca di memori otakku bak film yang sedang diputarkan. Mulai dari perjalanan my baloon (sebutan dari dhewe untuk: aku, dhewe, bundo, acil, dan farida) menuju kampus sampai makan malam disebuah warung bakso setelah kepulangan kami dari Jogjakarta yang ditemani oleh Ervin.
Kadang sebentuk senyum tergambar disudut bibirku, saat aku mengingat kejadian di pengrajin perak yang ada di Kota Gedhe. Ada kejadian yang tidak bisa aku ceritakan disini karena ini adalah rahasia perusahaan, yang jelas aku menikmati semua ini. Aku menikmati bagaimana berbincang-bincang dengan pengusaha-pengusaha perak tersebut dan syukur Alhamdulillah aku dan teman-teman diterima dengan hangat disana, begitu juga saat kami berada di pengrajin grabah yang ada di Kasongan baik saat kami berada di tempat produksinya maupun tempat pemasarannya. Kini aku harus mengakui bagaimana hebatnya karya-karya anak bangsa yang mengharumkan bangsanya melalui kerajinan baik gerabah, souvenir perak, maupun perhiasan perak yang mana semua itumereka ekspor ke luar negeri dan terbukti pasar luar negeri pun tertarik terhadap produk dalam negeri dan semoga ini dapat dipertahankan dan dapat ditingkatkan lagi.
Rasa capek setelah study lapangan ke Jogjakarta pun mulai terasa. Kini kejadian-kejadian yang tadi terjadi selama di Jogjakarta pun tiba-tiba jelas terbaca di memori otakku bak film yang sedang diputarkan. Mulai dari perjalanan my baloon (sebutan dari dhewe untuk: aku, dhewe, bundo, acil, dan farida) menuju kampus sampai makan malam disebuah warung bakso setelah kepulangan kami dari Jogjakarta yang ditemani oleh Ervin.
Kadang sebentuk senyum tergambar disudut bibirku, saat aku mengingat kejadian di pengrajin perak yang ada di Kota Gedhe. Ada kejadian yang tidak bisa aku ceritakan disini karena ini adalah rahasia perusahaan, yang jelas aku menikmati semua ini. Aku menikmati bagaimana berbincang-bincang dengan pengusaha-pengusaha perak tersebut dan syukur Alhamdulillah aku dan teman-teman diterima dengan hangat disana, begitu juga saat kami berada di pengrajin grabah yang ada di Kasongan baik saat kami berada di tempat produksinya maupun tempat pemasarannya. Kini aku harus mengakui bagaimana hebatnya karya-karya anak bangsa yang mengharumkan bangsanya melalui kerajinan baik gerabah, souvenir perak, maupun perhiasan perak yang mana semua itumereka ekspor ke luar negeri dan terbukti pasar luar negeri pun tertarik terhadap produk dalam negeri dan semoga ini dapat dipertahankan dan dapat ditingkatkan lagi.

Selain itu ada juga kejadian yang membuat aku geli. saat berada di malioboro my baloon sengaja berpencar. Acil dan Dhewe,sedang aku bersama Baby (Farida) dan Bundo. Acil dan Dhewe sedang asyik memilih barang yang ada di malioboro, sedang my baloon sisanya hanya menunggu sebentar lalu pamit untuk meninggalkan mereka. Aku dan Bundo dengan setia mengikuti jalannya Baby yang nggak bisa dikatakan lambat dan cukup membuat nafas kami terengah-engah. Saat kami tanya kemana arah tujuan kami, Baby menjawabnya dengan nada tanpa dosa. Dia menggiring kami berdua menuju "Pasar Bringharjo" yang mana jaraknya bisa dikatakan tidak dekat jika dilampaui dengan berjalan kaki. Tak banyak yang kami beli di pasar tersebut, namun cukup puas juga karena ini jadi referensi belanja bagi kami jika suatu saat nanti datang ke Jogjakarta lagi.


Hari-hari ini pun berjalan begitu cepat, seakan mimpi yang hanya numpang mampir di alam tidurku namun semua ini tak begitu saja dapat aku lupakan, ada pelajaran berharga tersendiri dengan adanya study lapangan ke Jogjakarta ini, antara lain yaitu mempererat rasa persaudaraan di B1 itu sendiri maupun pengetahuan-pengetahuan yang kami dapatkan saat mengunjungi pengrajin serta pemilik usaha di daerah Jogjakarta tersebut.
Langganan:
Komentar (Atom)
