Sabtu, 31 Desember 2011

Sepucuk Surat untuk Nay

Masih teringat jelas senyum yang selalu merekah saat kita bertemu, senyum yang mendatangkan kedamaian bagi siapapun yang melihatnya. Nay, andai ku tahu pertemuan itu adalah pertemuan terakhir kita, dan andai ku tahu nyawamu akan berakhir lewat kecelakaan itu mungkin aku akan mencegahmu sesaat dan memberi tahu kamu untuk berhati-hati dalam berkendara. Tapi, aku hanyalah manusia biasa yang tak pernah tahu kapan ajal seseorang akan datang.
kini aku hanya dapat berdoa semoga setiap dosa yang pernah kau lakukan akan diampuni oleh Allah SWT, setiap kebaikanmu pun diterima oleh-Nya dan kau ditempatkan di surga_nya. Amiin
Terakhir kuucapkan terima kasih atas persahabatan yang singkat ini, terima kasih atas tawa riang yang selalu kau berikan ditengah kebersamaan kita, dan terima kasih kuucapkan atas senyum yang tak pernah lelah tergambar diwajahmu..
Semoga kau tenang di alam sana.


Tempat sepi, 31 Desember 2011

Sabtu, 17 Desember 2011

Jogjakarta



Hari sudah malam, matahari pun telah meninggalkan permukaan. Tak banyak yang aku perbuat saat raga ini sudah kembali menyentuh lantai kamar, selain memanjakan jemariku diatas keyboard laptop.
Rasa capek setelah study lapangan ke Jogjakarta pun mulai terasa. Kini kejadian-kejadian yang tadi terjadi selama di Jogjakarta pun tiba-tiba jelas terbaca di memori otakku bak film yang sedang diputarkan. Mulai dari perjalanan my baloon (sebutan dari dhewe untuk: aku, dhewe, bundo, acil, dan farida) menuju kampus sampai makan malam disebuah warung bakso setelah kepulangan kami dari Jogjakarta yang ditemani oleh Ervin.
Kadang sebentuk senyum tergambar disudut bibirku, saat aku mengingat kejadian di pengrajin perak yang ada di Kota Gedhe. Ada kejadian yang tidak bisa aku ceritakan disini karena ini adalah rahasia perusahaan, yang jelas aku menikmati semua ini. Aku menikmati bagaimana berbincang-bincang dengan pengusaha-pengusaha perak tersebut dan syukur Alhamdulillah aku dan teman-teman diterima dengan hangat disana, begitu juga saat kami berada di pengrajin grabah yang ada di Kasongan baik saat kami berada di tempat produksinya maupun tempat pemasarannya. Kini aku harus mengakui bagaimana hebatnya karya-karya anak bangsa yang mengharumkan bangsanya melalui kerajinan baik gerabah, souvenir perak, maupun perhiasan perak yang mana semua itumereka ekspor ke luar negeri dan terbukti pasar luar negeri pun tertarik terhadap produk dalam negeri dan semoga ini dapat dipertahankan dan dapat ditingkatkan lagi.



Selain itu ada juga kejadian yang membuat aku geli. saat berada di malioboro my baloon sengaja berpencar. Acil dan Dhewe,sedang aku bersama Baby (Farida) dan Bundo. Acil dan Dhewe sedang asyik memilih barang yang ada di malioboro, sedang my baloon sisanya hanya menunggu sebentar lalu pamit untuk meninggalkan mereka. Aku dan Bundo dengan setia mengikuti jalannya Baby yang nggak bisa dikatakan lambat dan cukup membuat nafas kami terengah-engah. Saat kami tanya kemana arah tujuan kami, Baby menjawabnya dengan nada tanpa dosa. Dia menggiring kami berdua menuju "Pasar Bringharjo" yang mana jaraknya bisa dikatakan tidak dekat jika dilampaui dengan berjalan kaki. Tak banyak yang kami beli di pasar tersebut, namun cukup puas juga karena ini jadi referensi belanja bagi kami jika suatu saat nanti datang ke Jogjakarta lagi.



Hari-hari ini pun berjalan begitu cepat, seakan mimpi yang hanya numpang mampir di alam tidurku namun semua ini tak begitu saja dapat aku lupakan, ada pelajaran berharga tersendiri dengan adanya study lapangan ke Jogjakarta ini, antara lain yaitu mempererat rasa persaudaraan di B1 itu sendiri maupun pengetahuan-pengetahuan yang kami dapatkan saat mengunjungi pengrajin serta pemilik usaha di daerah Jogjakarta tersebut.

Minggu, 02 Oktober 2011

Lubang di Hati



Aku merenung dalam hati
Meragukan akan rasa itu
Rasa yang tertanam begitu dalam
Rasa yang tinggal dilubang hati

Jauh rasa itu ku buang
Namun tak bisa ku bohongi diri ini
Betapa banyak bekas rasa itu
Rasa yang tak pernah ku sangka
Rasa yang datang begitu saja


Tempat ter"jadoel", 02 Oktober 2011

Sabtu, 18 Juni 2011

sebuah ikatan



ketika surya mengawali kisah
rasa di hati tiada terbendung lagi
kata pun mengunci erat
hanya senyuman yang dapat menggambarkan rasa

sebuah ikatan yang tiada dua
persahabatan yang mengundang tawa
persahabatan yang tak terduga
persahabatan yang berawal dari canda

kawan, terima kasih atas benih ketenangan yang kau tebarkan
terima kasih juga atas deburan ombak yang menggugah jiwa
dan beribu terima kasih ku ucapkan atas segala rasa yang telah bersemayam di dada



Tempat terdalam, 18 Juni 2011

Jumat, 20 Mei 2011

Senja



Jiwa ini jauh melayang di waktu senja
Menembus megahnya mega
Menghantam angin yang menyapa

Senja, Oh, senja...
Lamunan tua jelas terbaca
Hati ini tak sanggup lagi menampung rasa
Karena engkau senja
Kisah dihati tak akan sirna


Tempat terpencil, 20 Mei 2011

Kamis, 19 Mei 2011

Tinta Biru



Tinta biru...
Menari indah dilembaran kisah
Menghiasi keceriaan di balik hati
Menaburkan butiran ketenangan di dalam jiwa

Tinta biru...
Menerbangkan harapan yang nyata
Harapan yang dahulu terbelenggu rasa
Harapan yang mengunci kata


Tempat, seperti dulu 20 Mei 2011

Minggu, 20 Maret 2011

Indahnya Kejutan

Kadang kejutan hadir di hidup kita
baik sadar maupun tidak sadar
baik diharapkan maupun tidak diharapkan
kejutan yang kadang membuat diri ini manis ataupun kecut
kejutan yang membuat diri ini geli maupun geram
kejutan yang kadang juga membuat diri ini jengkel dibuatnya.
dan, bahkan, sering membuat diri ini terlihat bodoh tak berdaya



Tempat terpencil, 20 Maret 2011

Minggu, 16 Januari 2011

Perjalanan Gelap

aku tersesat dalam gua

hanya gelap dan dingin yang menemani

cahaya pun enggan menyinari


kuraba setiap dinding gua, bergarap mendapat pegangan yang tepat untuk menuntunku

menit demi menit ku lewati dengan hati-hati

walau terkadang tajamnya dinding gua melukiskan goresan luka


berjalan dalam kegelapan,

ya, itulah yang aku alami hingga seberkas cahaya tampak dari ujung gua

dan ketika aku datangi, goresan luka pun tiada rasa lagi.



tempat terang, 17 Januari 2011